Selasa, 20 Desember 2011

Cegah Kerusakan, Tanam Pohon Bakau


Cegah Kerusakan, Tanam Pohon Bakau

RIDWANSYAH

Kendari

Terik sinar matahari di Pantai Nambo, Kendari, SulawesiTenggara (Sultra) tidak menyurutkan semangat 1.500 warga menghadiri acara Gerakan Nasional Cinta Bahari melalui penanaman pohon bakau.

Sedikitnya ada 3.000 pohon bakau disiapkan untuk ditanam di dua lokasi yakni Pantai Nambo dan Teluk Kendari. Dua unit speedboat pun disiapkan untuk mengantar Gubernur Sultra Nur Alam beserta rombongan dari Jakarta di antaranya Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Abdullah Syam,Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Keluarga Hijau Indonesia. Pemukulan kentong pun dilakukan gubernur tanda dimulainya penanaman pohon bakau secara serentak. Dengan semangat, satu persatu para peserta turun ke pinggir pantai.

Menurut Abdullah, penanaman pohon bakau ini merupakan upaya untuk mencegah bencana alam sebab manfaat tanaman ini sangat banyak. Selain menyerap karbondioksida, keberadaan pohon bakau ini juga akan diikuti dengan perkembangan biota laut.

Selama ini,kataAbdullah, sudah banyak pidato atau ceramah mengenai pelestarian alam, tapi masih sedikit yang melakukan aksi melestarikan alam secara konkret. "Ini merupakan bagian dari dakwah dengantindakan nyata. Semoga dengan kegiatan ini masyarakat bisa mencontoh untuk menjaga alamnya," tu tur Abdullah di acara Gerakan Nasional Cinta Bahari di Kendari, Minggu (18/12).

GubemurSul tra Nur Alam menyambut baik kegiatan yang digagas LDII bersama MUI. Dia mengakui, hampir 80% hutan bakau di Sultra tidak terawat Selain melakukan penanaman pohon, pihaknya akan membentuk Satgas Pemelihara Bakau. Kendari memiliki bentuk teluk yang unik seperti tapal kuda sehingga air pantainya tidak banyak berombak karena tertutup oleh perbukitan. Dengan keunikan ini, sudah semestinya kelestarian bakau menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

"Kalau program penanaman bakau ini sudah bagus, kami berharap wisata laut Kendari yang begitu indah bisa dipromosikan," kata gubernur dua periode ini.

Presiden Keluarga Hijau Indonesia, Hidayat mengatakan, kondisi hutan bakau di Sultra tergolong cukup memprihatinkan. Kerusakan masih bisa di toleransi jika hanya 25% dari luas wilayah.Tapi jika sudah sampai 80%,itu bisa dikatakan urgen. "Keberadaan pohon bakau ini bisa memperlambat proses abrasi karena seringnya pengerukan pasir pantai," ungkapnya. Menurutnya, memilih Sultra sebagai tempat kegiatan ini merupakan pilihan yang tepat .

sumbar : Harian Seputar Indonesia 20 Desember 2011,hal. 11

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar